TERASPOST.COM, Gunungkidul — Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat langkah antisipasi dampak El Nino melalui optimalisasi lahan kering dan penyediaan sumber air guna menjaga produksi pangan nasional. Upaya tersebut dilakukan melalui pembangunan sumur bor, pompanisasi, dukungan sarana produksi, serta pendampingan penyuluh pertanian di Kalurahan Mertelu, Kapanewon Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa penguatan infrastruktur air menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan di tengah ancaman perubahan iklim dan kekeringan.
“Antisipasi El Nino harus dilakukan dengan langkah nyata di lapangan. Pompanisasi, sumur bor, dan optimalisasi lahan menjadi strategi penting untuk memastikan lahan tetap berproduksi sehingga target swasembada pangan dapat tercapai. Kita tidak boleh membiarkan lahan produktif berhenti karena kekurangan air,” tegas Amran.
Sebagai tindak lanjut arahan tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Idha Widi Arsanti, hadir langsung mendorong percepatan pengembangan pertanian lahan kering di Mertelu, Kamis (10/9/2026).
Menurut Idha, lahan kering memiliki potensi besar untuk mendukung peningkatan produksi pangan apabila didukung dengan ketersediaan air, teknologi, sarana produksi, dan pendampingan sumber daya manusia pertanian.
“Lahan kering memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan. Ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting. Dengan dukungan sumur bor, pompanisasi, pupuk, teknologi budidaya, dan pendampingan penyuluh, produktivitas lahan dapat ditingkatkan sehingga berdampak pada peningkatan pendapatan petani,” ujar Idha.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah pembangunan sumur bor dengan target kedalaman 103 meter. Hingga saat ini, proses pengeboran telah mencapai sekitar 65 meter. Air dari sumur tersebut nantinya akan dialirkan ke tandon yang berjarak sekitar 100 meter untuk mendukung kebutuhan irigasi lahan pertanian masyarakat.
Selain pembangunan sumur bor, petani juga memperoleh bantuan pompa dari Pupuk Indonesia untuk memperkuat sistem pengairan dan meningkatkan pemanfaatan lahan yang selama ini terkendala keterbatasan air. Program ini turut didukung oleh Rabu Biru Foundation sebagai mitra dalam pemberdayaan petani dan pengembangan pertanian lahan kering.
Baca Juga: 341 Mahasiswa Baru Polbangtan Dikukuhkan, Kementan Siapkan Generasi Muda Penggerak Pertanian Modern
“Yang kita bangun bukan hanya infrastrukturnya, tetapi ekosistem pertaniannya. Air tersedia, pupuk tersedia, teknologi diterapkan, dan petani didampingi. Semua harus terintegrasi agar memberikan hasil yang nyata,” jelas Idha.
Program tersebut dilaksanakan bersama Kelompok Tani Rejeki yang beranggotakan 93 petani dengan luas lahan sekitar 28 hektare. Lahan dimanfaatkan untuk budidaya padi gogo dan berbagai komoditas palawija. Saat ini produktivitas padi gogo berada pada kisaran 2 ton per hektare dan diharapkan meningkat seiring tersedianya sumber air yang lebih memadai.
Dalam kesempatan tersebut, Idha juga menekankan pentingnya peran penyuluh pertanian sebagai ujung tombak pendampingan petani dalam mengawal keberhasilan program pemerintah.
“Penyuluh harus hadir bersama petani, memahami persoalan yang dihadapi di lapangan, memberikan solusi, dan memastikan teknologi maupun program pemerintah benar-benar dimanfaatkan secara optimal. Orientasinya adalah peningkatan produksi sekaligus peningkatan kesejahteraan petani,” tegasnya.
Kegiatan ini turut melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, penyuluh pertanian, Pupuk Indonesia, Rabu Biru Foundation, hingga Kelompok Tani Rejeki. Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan pertanian di wilayah lahan kering sekaligus menjaga produktivitas pangan di tengah tantangan perubahan iklim.
Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta-Magelang (Polbangtan YoMa), R. Hermawan, yang hadir mendampingi menyampaikan ,pembangunan sumur bor dan pompanisasi di Mertelu merupakan langkah strategis untuk memastikan lahan kering tetap produktif meski menghadapi risiko kekeringan akibat El Nino.
“Polbangtan YoMa siap mendukung penguatan kapasitas petani dan penyuluh melalui pendampingan serta penerapan teknologi budidaya yang adaptif. Dengan ketersediaan air, dukungan sarana produksi, dan pendampingan yang berkelanjutan, kami optimistis produktivitas lahan kering dapat meningkat sehingga berkontribusi nyata dalam menjaga produksi pangan dan mendukung swasembada pangan nasional,” pungkas Hermawan.(*)

